Indonesia dan Bayang-Bayang Sofis
Di Athena abad ke-5 sebelum Masehi, kota itu menjadi pusat pengetahuan dan demokrasi. Orang-orang berdiskusi di pasar, berdebat di ruang publik, dan memperjuangkan gagasan di hadapan khalayak. Namun, di tengah semarak wacana itu, muncul sekelompok orang yang disebut Sofis — guru retorika yang menjual kemampuan berbicara dan berargumentasi sebagai barang dagangan.
Kaum Sofis mengajarkan cara memenangkan debat, bukan cara menemukan kebenaran. Mereka pandai menata kalimat, menggiring opini, dan menampilkan kebijaksanaan semu. Bagi mereka, yang penting bukanlah “apa yang benar”, melainkan “siapa yang tampak benar”. Dari sinilah, Socrates memulai perlawanan sunyinya. Ia menolak menjual kebijaksanaan. Ia mempertanyakan, menggugat, dan menggali makna di balik keyakinan yang semu — hingga akhirnya dijatuhi hukuman mati oleh masyarakat yang tak tahan pada cermin kejujuran..
Lebih dari dua milenium kemudian, bayang-bayang kaum Sofis tampak kembali di Indonesia. Bedanya, kini mereka tidak lagi berdiri di pasar Athena, melainkan di panggung politik, ruang konferensi, dan layar media sosial. Mereka berbicara atas nama rakyat, keadilan, atau integritas, tetapi di balik retorika itu sering tersembunyi kepentingan politik dan ekonomi. Mereka menampilkan citra intelektual, tetapi jarang menunjukkan keberanian moral untuk berpikir jujur.
Di berbagai kesempatan, kita dapat menyaksikan kecenderungan ini dalam praktik komunikasi pemerintah. Banyak pejabat publik yang mahir berpidato, fasih menggunakan istilah teknokratis, dan lihai menyusun narasi keberhasilan, tetapi lemah dalam menjelaskan data dan argumentasi rasional di balik kebijakan. Kata-kata sering digunakan bukan untuk memberi kejelasan, melainkan untuk mengaburkan persoalan. Kritik publik dibalas dengan slogan, bukan dengan penjelasan substantif. Fenomena ini menunjukkan bahwa warisan kaum Sofis masih hidup, hanya saja kini mengenakan pakaian birokrasi.
Di sisi lain, media sosial memperkuat kecenderungan retoris ini. Setiap pernyataan pejabat kini menjadi konsumsi publik yang cepat dan masif. Kebijakan diukur bukan dari dampaknya terhadap masyarakat, melainkan dari popularitas narasi yang menyertainya. Kebenaran kehilangan makna epistemologinya dan berubah menjadi alat legitimasi kekuasaan. Dalam situasi seperti ini, pengetahuan tidak lagi menjadi sarana pembebasan, tetapi sekadar ornamen citra.
Socrates pernah berkata, “Kebijaksanaan sejati dimulai ketika seseorang menyadari bahwa ia tidak tahu apa-apa.” Kalimat itu mencerminkan kesadaran filosofis bahwa pengetahuan sejati lahir dari kerendahan hati intelektual. Namun, dalam budaya politik Indonesia, pengakuan akan ketidaktahuan sering dianggap kelemahan. Kita lebih menghargai kepastian yang dipaksakan daripada keraguan yang jujur. Akibatnya, ruang berpikir kritis menyempit; diskursus publik lebih sering menjadi panggung retorika daripada tempat pertukaran gagasan. Padahal:
Demokrasi yang sehat hanya bisa bertumbuh di atas fondasi kejujuran berpikir.
Sistem politik tidak akan matang bila pejabat publik lebih sibuk menata kata daripada menata kebijakan.
Etika pemerintahan bukan hanya soal tata kelola administrasi, tetapi juga soal kejujuran intelektual: keberanian untuk berkata “saya belum tahu”, “kami perlu belajar”, atau “data kami belum cukup”. Sayangnya, pernyataan semacam itu kini jarang terdengar di ruang-ruang kekuasaan.
Refleksi terhadap kaum Sofis seharusnya menjadi peringatan bagi kita semua. Ketika politik menjadi panggung retorika dan bukan sarana pencarian kebenaran, masyarakat perlahan kehilangan daya kritisnya. Socrates mengajarkan bahwa tugas filsafat bukanlah menguasai argumen, tetapi menjaga nurani agar tetap jernih. Di tengah derasnya arus informasi dan kepentingan, keberanian berpikir jernih adalah bentuk perlawanan paling sunyi sekaligus paling penting.
Indonesia tidak kekurangan orang pintar, tetapi kita sedang kekurangan orang yang jujur dalam berpikir. Dan selama kata-kata masih digunakan untuk menyembunyikan kebenaran, selama kebijakan lebih sibuk dipoles daripada diuji, kita akan terus hidup di bawah bayang-bayang Sofis. Zaman yang baru, tetapi dengan kesalahan yang sama: mencintai kemenangan retorika lebih dari kebenaran itu sendiri.
Komentar
Posting Komentar