Indonesia dan Bayang-Bayang Sofis
Di Athena abad ke-5 sebelum Masehi, kota itu menjadi pusat pengetahuan dan demokrasi. Orang-orang berdiskusi di pasar, berdebat di ruang publik, dan memperjuangkan gagasan di hadapan khalayak. Namun, di tengah semarak wacana itu, muncul sekelompok orang yang disebut Sofis — guru retorika yang menjual kemampuan berbicara dan berargumentasi sebagai barang dagangan. Kaum Sofis mengajarkan cara memenangkan debat, bukan cara menemukan kebenaran. Mereka pandai menata kalimat, menggiring opini, dan menampilkan kebijaksanaan semu. Bagi mereka, yang penting bukanlah “apa yang benar”, melainkan “siapa yang tampak benar”. Dari sinilah, Socrates memulai perlawanan sunyinya. Ia menolak menjual kebijaksanaan. Ia mempertanyakan, menggugat, dan menggali makna di balik keyakinan yang semu — hingga akhirnya dijatuhi hukuman mati oleh masyarakat yang tak tahan pada cermin kejujuran.. Lebih dari dua milenium kemudian, bayang-bayang kaum Sofis tampak kembali di Indonesia. Bedanya, kini mereka tidak lagi b...